MENGAPA KASIH KARUNIA?

Apakah kebalikan dari baik?

Tanggapan umumnya, kebalikan dari baik dalah buruk atau jahat. Akan tetapi, mari kita lihat kitab Kejadian dan melihat apakah kebalikn dari baik menurut Allah. (Bacalah seluruh Kejadian 3) Kemurahan adalah kebalikan dari kebaikan Allah. Kebalikan baik dari manusia adalah buruk. Saat Adam berdosa, seharusnya Allah mengutuk dia, tetapi yang dikutuk adalah bumi. Itu adalah kemurahan. Yaitu tidak mendaptkan apa yang selayaknya kita terima. Apakah yang layak diterima manusia? Penghakiman sebuah pengharapan akan kematian yang pasti! Di atas semua itu, Allah membunuh seekor domba dan membuat pakaian kulit bagi Adam dan Hawa, menggantikan daun pohon ara yang mereka pakai untuk menutup diri mereka.  
Kemudian Allah mengusir mereka keluar dari taman supaya mereka tidak makan dari pohon kehidupan dan hidup dalam keadaan dosa untuk selamanya. Allah bahkan menubuatkan bahwa keturunan perempuan akan meremukkan kepala Iblis. Sebuah janji indah dari kemenangan kekal bagi manusia atas musuh! Itu adalah kasih karunia, karena jika kita menolak kasih karunia-Nya, satu-satunya alternative dari kasih karunia adalah penghakiman dan murka Allah. Allah telah membereskan penghakiman yang layak kita terima sekali untuk selamanya, saat Ia, sebagai Hakim atas dunia, menerima korban terakhir Yesus di atas kayu salib! Sebelum itu, selalu dibutuhkan persembahan korban darah untuk penebusan.   

Perjanjian dari Allah selalu dimateraikan dengan darah. Alkitab mengatakan kepada kita bahwa tanpa pencurahan darah tidak ada pengampunan dosa. Dalam perjanjian hibah tanah kerajaan yang diadakan di jaman Timur Dekat kuno, ritual semacam ini dilakukan untuk “meneguhkan” janji yang dibuat. Melalui perjanjian darah ini, Allah meneguhkan tiga janji utama yang Ia berikan kepada Abraham: janji keturunan, tanah dan berkat (Kejadian 12:2-3). Sebuah perjanjian darah mengkomunikasikan sebuah janji yang mengutuk diri sendiri. Pihak yang terlibat akan berjalan di antara binatang yang disembelih dan berkata, “Kiranya hal ini terjadi padaku bila aku tidak menepati janji.” Yeremia 34:18-19 juga berbicara tentang “pembuatan janji” seperti ini.  Akan tetapi ada perbedaan penting antara perjanjian darah yang dibuat Allah dengan Abraham dalam Kejadian 15. Saat malam datang, Allah menampakkan diri dalam  bentuk “perapian yang berasap beserta suluh yang berapi lewat di antara potongan - potongan daging itu” (Kejadian 15:17). Tetapi tertidurlah Abram dengan nyenyak. Lalu turunlah meliputinya gelap gulita yang mengerikan (ayat 12). Dengan demikian, Allah dalam bentuk perapian yang berasap (Allah Bapa) dan suluh yang berapi (Yesus, Anak Allah) muncul dan melewati bagian-bagian tubuh binatang yang disembelih, dan perjanjian tersebut disahkan oleh Allah sendiri. Tidak ada yang tergantung pada Abraham. Semuanya bergantung pada Allah, yang berjanji untuk setia pada perjanjian-Nya . "Sebab ketika Allah memberikan janji-Nya kepada Abraham, Ia bersumpah demi diri-Nya sendiri, karena tidak ada orang yang lebih tinggi dari pada-Nya” (Ibrani 6:13-18). Abraham dan keturunannya dapat percaya, bersandar dan memercayai segala yang telah dijanjikan Allah. Perjanjian darah ini juga dikenal sebagai Perjanjian Abraham. Darah terlibat dalam perjanjian ini, seperti pada perjanjian darah lainnya, menandakan kehidupan yang darinya darah itu berasal.

Imamat mengatakan kepada kita bahwa nyawa berada dalam darah. Jika kita melihat perjanjian yang diadakan Allah bagi Abraham, kita dapat menyebut bahwa itu merupakan perjanjian kasih karunia; yang perlu dilakukan Abraham adalah “beristirahat” dan percaya. Dan hal itu merupakan suatu hal yang paling sulit bagi sebagian besar dari kita saat ini. Kita tidak bisa hanya duduk tenang dan mengetahui bahwa IA dalah Allah dan bahwa IA adalah Jawaban untuk segalanya. Saya sering kali memberitahu para gembala dan pemimpin bahwa kita tidak berguna bagi jemaat dan pelayanan kita bila kita “kurang beristirahat”. Kita hanya akan dapat menjadi yang terbaik saat kita sepenuhnya beristirahat dan bukan sepenuhnya stress!  







Our Social Media